📍Leys Bar & Club , Manhattan.


IMG_9890.jpeg

Are you single?” Suara Fezio terdengar sedikit berat, sengau oleh sentuhan alkohol yang mulai merayapi nadinya.

Yeah.” Jawaban laki-laki berambut pirang itu terdengar singkat, namun cukup jelas.

Ow, nice! Kiss me then.” Dengan senyum nakal dan gerakan tubuh yang sedikit limbung, Fezio mengangkat tangannya, menyentuh lembut pipi pria itu. Namun, reaksi yang diterimanya tidak sesuai harapan.

Wait—wait, no.” Pria itu buru-buru mundur, mencoba melepaskan diri dari sentuhan Fezio. “I don’t wanna die.

Kening Fezio berkerut. “What?” tanyanya, nadanya kini berubah heran. “What did you say?

Namun, pertanyaannya tak pernah mendapat jawaban. Si pria memilih lari, menjauh seperti melihat hantu. Napasnya terlihat tergesa, seolah ia baru saja lolos dari situasi berbahaya. Pandangannya tak lepas dari satu sosok di sisi bar.

Gerald. Duduk tenang dengan setengah gelas minuman di tangan, mata pria pemilik bar itu tak berkedip, mengawasi Fezio dengan tatapan tajam. Matanya menyimpan ribuan ancaman diam yang tak terucap, cukup untuk membuat siapa pun yang berpikir menyentuh Fezio dua kali berpikir ulang.