📍Fifth Avenue Street, Manhattan, New York.

.
.
.
.
.
Waktu menunjukkan pukul dua belas siang. Matahari tepat di puncaknya, namun tidak terasa menyengat. Langit Manhattan biru bersih, angin musim semi berhembus pelan, menyapu wajah siapa pun yang melangkah di bawahnya. Sangat berbeda dengan siang hari di Jakarta, pikir Fezio. Di sana, matahari bisa membakar kulit bahkan sebelum jarum jam menunjuk angka dua belas.
Laki-laki berusia dua puluh lima tahun itu baru saja menjejakkan kaki untuk pertama kalinya di kota metropolitan yang konon tak pernah tidur. Sebuah koper besar ia tarik di tangan kanan, tas belanja putih dari swalayan lokal berisi keperluan penting tergantung di lengan kirinya, dan sebuah ransel ringan menggelayut santai di punggungnya.