.

.

.

Langkahnya tergesa menuju bar, tempat di mana pujaan hatinya kini berada dalam pelukan orang lain.

Hatinya membara. Rahangnya mengeras. Alisnya menukik tajam seolah menantang siapa pun yang mencoba menghalangi jalannya. Ia tak peduli pada pandangan orang, tak peduli pada waktu. Yang ia tahu, ia harus sampai.

Bar itu tak jauh. Hanya melintasi beberapa blok dari tempatnya. Kota tak pernah tidur ini memeluk malam dengan kebisingannya, tapi bagi Gerald, semuanya terasa bisu—kecuali suara hatinya sendiri.

Saat sampai di depan pintu masuk, petugas pemeriksa identitas menyapanya sopan, namun tak menahan langkahnya, karena semua staff tahu siapa dia.

Sang pemilik Leys Bar. Geraldo Jermaine.