📍Paradis Cafe, Manhattan, NY.


IMG_2623.jpeg

.

.

.

Kedua tangan mereka berjabat, saling memperkenalkan diri. Putri mereka—ralat—Putri dari sosok berpakaian formal itu masih terdiam memeluk kaki ayahnya. Matanya yang polos bergantian menatap keduanya, lalu akhirnya berhenti pada Fezio dengan sebuah ajakan sederhana, “Papa, let’s come to my house.”

Sontak mereka berdua sama terkejutnya, dan jabatan tangan itu terlepas. Fezio tampak canggung, bingung harus bereaksi seperti apa, sementara Geraldo Jermaine, sang pria formal itu, menggendong putrinya dan menegur dengan nada pelan, “Hailey, show some respect. Call Mr. Fezio politely.”

Namun Hailey tak bergeming, ia menatap Fezio dengan tatapan polos yang penuh rasa suka, “But I like him.” Ia kemudian beralih menatap ayahnya, “I want Papa like him... Daddy, can he come home with us?”

68A2F3F5-B7F2-48FF-B020-55491EDA6A17.jpeg

Fezio yang mendengar kalimat tersebut sontak mematung. Mulutnya seakan kelu, tubuhnya kaku seperti membeku dalam dinginnya kebingungan. Ia tak tahu harus berkata apa. Gerald pun terlihat sama canggungnya, mengedipkan matanya berkali-kali, mencoba mencerna apa yang baru saja didengar.

“I’m sorry, please forgive my daughter,” ujar Gerald pada Fezio, “I’ll make sure to teach her better manners.”